Semakin kesini, semakin kita menyadari bahwa ada negara yang kaya banget, dan ada pula yang tidak. Dan. masih banyak juga orang miskin dalam suatu negara, terutama di negara berkembang seperti negara kita. Hem.. dari sini, apakah tidak ada cara untuk memberantas kemiskinan? Dan, kenapa negara kita tidak mencetak uang sebanyak-banyaknya saja?
Kadang kita berpikir kalau mencetak uang yang banyak, akan mendatangkan kesejahteraan dalam tanda kutip, secara ekonomi. Tapi, sebenarnya itu justru mendatangkan masalah baru. Oleh karenanya, negara jarang mencetak uang yang berlebihan. Intinya, kita tidak bisa mencetak uang sebanyak-banyaknya, karena hal itu bisa mengakibatkan kenaikan harga barang, dan penurunan dalam tanda kutip nilai uang itu sendiri, atau yang biasa disebut sebagai inflasi. Eits.. tunggu dulu. bagaimana hal itu dapat terjadi?
Pendeknya, dalam suatu pasar, pasti ada kegiatan jual dan beli. Jadi, perputaran uang itu menumbuhkan ekonomi. Simpelnya, negara akan mencetak uang berdasarkan kebutuhan permintaan dan penawaran yang terjadi dalam pasar. Nah, jadi banyaknya jumlah uang yang beredar dan jumlah barang yang dibutuhkan harus lah seimbang. Lalu, bisa dibayangkan apa yang terjadi kalau uang yang dicetak terlalu banyak?
Jika pemerintah mencetak terlalu banyak uang, kita akan juga memiliki lebih banyak uang dan tentunya membuat kemampuan membeli barang semakin tinggi. Soalnya, kita secara tidak langsung, harus menghabiskan uang kita untuk membeli barang. Alhasil, harganya pun menyesuaikan, jadi lebih tinggi.
Namun sayangnya, si produsen, atau orang yang menyediakan barangnya pun tidak sanggup untuk memproduksi barang. Akibatnya, jumlah barang yang ingin kita beli jadi berkurang. Kemudian, hal tersebut tidak mengubah apa-apa, kecuali menurunkan, dalam tanda kutip, nilai uang itu sendiri, sehingga nilainya semakin lama, semakin tidak berharga karena jumlahnya yang terlalu banyak.
Oleh karena itu, pemerintah tidak mencetak uang terlalu banyak, karena nanti akan menyebabkan inflasi parah, atau hyperinflation.
